Filsafat berasal dari
bahasa Yunani kuno, yaitu “philos” dan “sophia”. Philos, artinya cinta yang
mendalam, dan Sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan. Dari arti harfiah ini,
Filsafat diartikan sebagai cinta yang mendalam akan kearifan. Secara popular filsafat
sering diartikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup
bagi individu. Henderson (1959) mengemukakan “Popularly philosophy means one’s general
view of live of men, of ideals, and of values, in the sense everyone has a
philosophy of life”. Dengan demikian maka jelas setiap individu atau setiap
kelompok masyarakat secara filosofis memiliki pandangan hidup yang mungkin
berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianggapnya baik.
Filsafat sebagai sebuah
sistem nilai menjadi dasar yang menentukan tujuan pendidikan. Hal ini
mengandung arti bahwa pandangan hidup atau sistem nilai yang dianggap baik dan
dijadikan pedoman bagi masyarakat akan tercermin dalam tujuan pendidikan yang
harus dicapai, karena kurikulum pada hakikatnya berfungsi untuk mempersiapkan
anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembangkan diri dan dapat
hidup dalam sistem nilai masyarakatnya sendiri.
Dalam pengembangan
kurikulum, filsafat menjawab hal-hal mendasar bagi pengembangan kurikulum,
antara lain: Kemana anak didik akan dibawa? Masyarakat yang bagaimana yang akan
dibentuk melalui pendidikan tersebut? Apa hakikat pengetahuan yang akan
diajarkan kepada anak didik? Norma atau sistem yang bagaimana yang harus
diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus? Bagaimana proses
pendidikan harus dijalankan?
Demikian mendasarnya
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat. Dengan kedudukannya
yang begitu mendasar, filsafat memiliki paling tidak empat fungsi, yaitu:
1. Filsafat
dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan:
a) Filsafat
dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harusdiberikan sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai;
b) Filsafat
dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan;
c) Filsafat
dapat menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan.
2.
Filsafat juga merupakan
proses berpikir. Filsafat sering diartikan sebagai cara berpikir. Berfikir
filosofis adalah berfikir yang memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri tersebut
menurut Sidi Gazalba (Uyoh Sadulloh: 2004), antara lain :
a) Berpikir
Radikal, yaitu berpikir sampai ke akar-akarnya, sampai pada konsekuensi
terakhir.
b) Berpikir
Sistematis, adalah berpikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah,
dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling
berhubungan yang teratur.
c) Berpikir
Universal, adalah tidak berpikir secaa khusus, yang hanya terbatas kepada
bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan secara sistematis dan
logis sampai ke akar-akarnya.
3. Orang
yang berfilsafat selalu berpikir secara mendalam tentang masalah secara
menyeluruh sebagai upaya mencari dan menemukan kebenaran.
Filsafat memegang peranan
penting dalam penyusunan dan
pengembangan kurikulum. Sama halnya dalam Filsafat Pendidikan, dikenal ada
beberapa aliran filsafat, diantaranya perenialisme, essensialisme,
eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme.
·
Perenialisme
Perenial berarti
“abadi”, aliran ini beranggapan bahwa beberapa gagasan telah bertahan selama
berabad – abad dan masih relevan
sampai
sekarang ini seperti pada saat gagasan
tersebut baru ditemukan. Perenialisme
lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada
warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting
dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham
ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat
pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
·
Essensialisme
Aliran filsafat
essensialisme adalah satu paham yang menginginkan agar manusia kembali kepada
kebudayaan yang lama, merujuk kepada pendidikan bersifat “tradisional” atau
“back to basics”. Aliran
ini dinamakan demikian karena filsafat ini berupaya menanamkan pada anak didik
hal–hal “essensial” dari pengetahuan akademik dan perkembangan karakter. Essensialisme
menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan
keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang
berguna. Matematika, sains, dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai
dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama
halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa
lalu.
·
Eksistensialisme
Eksistensialisme
merupakan paham yang berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas
kemauannya yang bebas/kreatif, seseorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran
itu bersifat relative, dan karenanya itu masing–masing individu bebas menetukan
mana yang benar atau salah . Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai
sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang
mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan: Bagaimana saya hidup
di dunia? Apa pengalaman itu?
·
Progresivisme
Progresivisme
menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta
didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan
bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
·
Rekonstruktivisme
Rekonstruktivisme
merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme,
peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang
perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh
menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini
akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan
melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada
proses.
Aliran Filsafat
Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang
mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan,
filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum
Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan
dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Dalam praktek
pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara
eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan
yang terkait dengan pendidikan. Saat ini pada beberapa negara dan khususnya di
Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan
kurikulum, yaitu dengan lebih menitik beratkan pada filsafat
rekonstruktivisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar